JANGANIRI DENGAN REZEKI ORANG LAIN Anakku, jangan iri dengan rezeki orang lain. Kita semua sudah punya jatah rezeki atau bagian rezeki masing-masing. VideoTikTok daripada Sulliwan Mellendoy (@sulliwan17): "Dan janganlah kamu iri dengan rezeki orang lain 😇". suara asli - Sulliwan Mellendoy. IZIers, pernahkah merasa iri terhadap apa-apa yang dimiliki atau didapatkan oleh orang lain? Misalnya iri dengan koleksi kendaraan mewah orang lain, iri dengan keberhasilan usaha orang lain, iri dengan popularitas orang lain atau rasa iri lainnya yang sejenis? Rasa iri sebenarnya muncul dari kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan ke kita lho. Iridengan Gadget Orang: “Ooh, Berkilau”. Merasa iri terhadap rekan kerja yang terus-menerus mengeluarkan gadget terbaru dan terhebat, tentu sering terjadi. Namun, gadget baru dan mahal memiliki banyak risiko. Mulai dari kerusakan, kehilangan, atau pencurian yang berarti ada biaya tambahan karena harus mengasuransinya. Ketikaseseorang melihat orang lain mendapatkan rezeki, nikmat atau pemberian yang lebih baik daripada yang didapatkannya – mungkin – ia akan merasa tersaingi, kalah dan tidak lebih baik dari orang tersebut. Dalam ajaran Islam, sifat ini disebut iri hati dan merupakan salah satu sifat tercela ( al-akhlaq al-madzmumah) yang harus dihindari. Jangankita mengadakan keributan terhadap orang lain dan jangan kita iri hati satu sama lain. AMD: Kita tidak boleh menjadi sombong, jangan saling menyakiti hati, dan jangan juga iri satu dengan yang lain. TSI: Janganlah kita menjadi sombong dan berkata dalam hati kita, “Saya lebih baik dari saudara-saudari seiman yang lain.” Atau berkata . “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain! Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [ An Nisaa 32] Mengapa Islam tak memperbolehkan kita iri pada rezeki orang lain? Ya tentu saja karena hal tersebut bisa dibilang sangat konyol! Mengapa konyol? Berikut ini ilustrasinya Bayangkan ada 2 tempat penitipan barang! Yang satu sangat luas, yang satu cenderung sempit. Tempat penitipan barang yang luas ini petugasnya begitu sibuk, ada banyak yang menitip tas, dompet, bungkusan, helm, dan lain sebagainya sehingga ia begitu sibuk melayani barang-barang titipan. Sedangkan tempat penitipan yang sempit, titipannya tak begitu banyak, petugasnya bisa lebih santai bekerja. Akan tetapi, potensi gaji kedua orang petugas yang menjaga tempat penitipan ini sama besarnya. Bukankah aneh dan konyol kalau si petugas yang menjaga tempat penitipan yang lebih sempit merasa iri pada petugas yang satunya hanya karena jumlah barang titipannya lebih banyak? Demikianlah ilustrasi mengapa kita tak perlu merasa iri dengan rezeki orang lain. Toh potensi kita dan orang tersebut untuk masuk surga Allah sama besarnya, jadi mengapa harus iri? Akan tetapi, memang benar ada satu kondisi di mana kita diperbolehkan untuk merasa iri pada orang yang lebih kaya, yakni ketika ia menafkahkan harta kekayaannya untuk bersedekah, berwakaf, dan membantu orang lain yang kesulitan. “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang yang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” HR. Bukhari Lalu, bagaimana jika kita masih sering merasa iri pada harta benda orang lain dan bukan karena kedermawanan orang itu? Adakah cara menghilangkan rasa iri yang konyol tersebut? Simaklah hadits berikut ini “Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya dikaguminya maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah.” HR. Abu Ya’la Jika kita masih merasa iri dan tertarik dengan rezeki yang Allah limpahkan pada orang lain, maka doakanlah kebarokahan pada rezeki orang tersebut, demikianlah cara terbaik untuk menangkal rasa iri di hati kita. Wallaahualam. SH Surat An-Nisa' Ayat 32 mengimbau umat manusia untuk menjauhi iri dengki terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian makhluk-Nya. وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا Wa lā tatamannau mā fadhdhalallāhu bihī ba'dhakum 'alā ba'dh, lirrijāli naṣībum mimaktasabụ, wa lin-nisā`i naṣībum mimmaktasabn, was`alullāha min fadhlih, innallāha kāna bikulli syai`in 'alīmā. Artinya "Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." QS An-Nisa' 32. Sababun Nuzul Surat An-Nisa' Ayat 32 Dalam Tafsirul Jalalain, secara ringkas Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa sababun nuzul ayat adalah ketika Ummu Salamah ingin mendapatkan pahala jihad sebagaimana para lelaki. Ia berkata "Andaikan kami lelaki, maka kami akan berjihad, dan kami akan mendapatkan pahala seperti pahala para lelaki." Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsirul Jalalain pada Futuhatul Ilahiyah, [Beirut, Darul Kutub Ilmiyah 2018], juz II, halaman 45. Sementara dalam Kitab Lubabun Nuqul, Imam As-Suyuthi menyebutkan dua riwayat secara lengkap. Riwayat pertama dari Ummu Salamah tersebut, dan riwayat kedua dari Ibnu Abbas. Secara berurutan, berikut ini riwayat lengkapnya عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، أنَّها قالَتْ يَغْزُو الرِّجالُ ولا يَغْزُو النَّسَاءُ، وإنَّما لَنَا نِصْفُ المِيراثِ، فَأنْزَلَ اللَّهُ ولا تَتَمَنَّوْا ما فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكم عَلى بَعْضٍ. وَأَنْزَلَ فِيهَا إنَّ المُسْلِمِينَ والمُسْلِماتِ [الأحزاب ٣٥]. رواه الترمذي والحاكم Artinya, "Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata 'Wahai Rasulullah, Para lelaki pergi berperang sementara para perempuan tidak berperang, dan bagi kami hanya mendapatkan separuh warisan mereka. Lalu Allah menurunkan ayat 'Wa lā tatamannau mā fadhdhalallāhu bihī ba'dhakum 'alā ba'dh [An-Nisa' 32]. Dan berkaitan Ummu Salamah, Allah juga menurunkan ayat 'Innal muslimina wal muslimat [Al-Ahzab 35].'" HR At-Tirmidzi dan Al-Hakim. عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ قالَ أتَتِ امْرَأةٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقالَتْ يا نَبِيَّ اللَّهِ، لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ، وشَهادَةُ امْرَأتَيْنِ بِرَجُلٍ، أفَنَحْنُ في العَمَلِ هَكَذا؟ إنْ عَمِلَتِ امْرَأةٌ حَسَنَةً كُتِبَتْ لَها نِصْفُ حَسَنَةٍ؟ فَأنْزَلَ اللّٰهُ ولا تَتَمَنَّوْا، الآية ... رواه ابن أبي حاتم Artinya, "Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata 'Ada seorang perempuan mendatangi Nabi saw. Lalu ia berkata 'Wahai Nabi Allah, bagian waris bagi laki-laki seperti dua bagian waris perempuan dan kesaksian dua perempuan sama dengan kesaksian satu orang laki-laki. Apakah kami dalam amal juga seperti itu? Jika kami melakukan suatu kebaikan, maka dituliskan untuk kami separo kebaikan?' Lalu Allah menurunkan ayat 'Wa lā tatamannau dan seterusnya sampai akhir ayat [An-Nisa' 32].'" HR Ibnu Abi Hatim. Jalaluddin As-Suyuthi, Lubabun Nuqul, [Beirut, Mu'assasatul Kutub At-Tsaqafiyah 2002], halaman 75. Ragam Tafsir Surat An-Nisa' Ayat 32 Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan munasabah atau kesesuaian ayat 32 dengan ayat sebelumnya. Menurutnya, dalam ayat ini Allah mencegah orang beriman dari sebagian perbuatan hati yaitu hasud iri dan dengki agar hatinya bersih; setelah dalam ayat sebelumnya, yaitu ayat 30-31, Allah telah mencegah mereka dari memakan harta secara jahat dan dari melakukan pembunuhan, agar sisi lahir mereka bersih. Jadi sama-sama mencegah orang beriman dari perbuatan yang diharamkan agar bersih lahir maupun batin. Selain itu, setelah dalam ayat-ayat sebelumnya, persisnya ayat 11, Allah mengunggulkan bagian waris laki-laki di atas bagian waris perempuan, ayat 32 ini hadir untuk mencegah masing-masing laki-laki dan perempuan mengharapkan apa yang dimiliki lawan jenisnya. Karena hal itu akan menyebabkan timbulnya hasud dan kebencian. Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr 2009], juz V halaman 45. Secara ringkas Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa maksud ayat adalah melarang orang dari berharap mendapatkan nikmat yang ada pada orang lain, baik nikmat yang bersifat duniawi maupun yang bersifat ukhrawi, supaya tidak menyeret pada sikap saling iri dan saling benci. Laki-laki mempunyai pahala dari amal yang dilakukannya seperti jihad dan lainnya, demikian pula perempuan mempunyai pahala dari amal yang dilakukannya seperti ketaatan terhadap suami dan menjaga kehormatannya. As-Suyuthi, Tafsirul Jalalain, II/45. Kita ketahui, terkadang wanita mengalami haid atau menstruasi, nifas dan semisalnya, sehingga puasa dan shalatnya tidak sesempurna laki-laki. Namun demikian, menarik sekali sabda Nabi Muhammad saw yang dikutip Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya إن للحامل منكن أجر الصائم القائم فإذا ضربها الطلق لم يدر أحد ما لها من الأجر، فإذا أرضعت كان لها بكل مصة أجر إحياء نفس Artinya, "Sungguh bagi perempuan hamil dari kalian terdapat pahala lelaki yang puasa dan ibadah qiyamul lail. Kemudian ketika kelahiran datang kepadanya, maka tak ada seorangpun yang mengetahui seberapa besar pahalanya. Lalu bila ia menyusui bayinya, maka dengan setiap hisapan air susu ia mendapatkan pahala menghidupkan nyawa orang." Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Darul Fikr 1981], juz X, halaman 83-84. Sementara Imam Ahmad As-Shawi menjelaskan secara terperinci. Tamanni dalam ayat maksudnya adalah mengharapkan sesuatu akan terjadi pada masa yang akan datang, berlawanan dengan istilah tahalluf yaitu mengharapkan sesuatu terjadi pada masa yang telah lewat. Menurut Imam As-Shawi, adapun hukumnya diperinci sebagaimana berikut Pertama, bila berharap nikmat milik orang lain beralih kepada dirinya, atau dengan harapan nikmat itu hilang dari orang lain tersebut, maka harapan seperti itu termasuk hasud yang tercela. Inilah hasud tercela yang secara jelas disebut dalam ayat lain أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ Artinya, "Ataukah mereka Ka'b bin Al-Asyraf dan ulama Yahudi lainnya dengki kepada manusia Muhammad atas anugerah yang Allah telah berikan kepadanya?" QS An-Nisa' 54. Kedua, bila berharap mendapatkan nikmat seperti nikmat yang ada pada orang lain tanpa harapan nikmat itu hilang darinya, maka diperinci lagi hukumnya menjadi dua, yaitu Hukum pertama, bila nikmat yang diharapkan itu berupa ketakwaan, kesalehan, atau menginfakkan harta pada kebaikan, maka hukumnya sunah. Hukum kedua, bila nikmat yang diharapkan itu berupa harta, maka hukumnya boleh. Secara tegas Imam As-Shawi menyatakan, bila orang mengharapkan punya harta seperti orang lain agar kaya, maka boleh. Dua perincian hukum terakhir ini sesuai dengan substansi sabda Nabi Muhammad saw لا حَسَدَ إلا في اثنتين رجل آتاه الله مالا فسَلَّطَه على هَلَكَتِهِ في الخير، ورجل آتاه الله حِكْمَة فهو يقضي بها ويُعَلِّمَها. ‏متفق عليه‏‏‏ Artinya, "Tidak boleh hasud kecuali pada dua orang 1 orang yang Allah beri harta lalu ia kuasakan dirinya untuk menggunakannya pada jalan yang benar; dan 2 orang yang Allah beri hikmah, lalu ia membuat keputusan hukum denganya dan mengajarkannya." Muttafaqun 'Alaih. Ahmad bin Muhammad As-Shawi, Hasyiyatus Shawi 'ala Tafsiril Jalalain, [Beirut, Darul Jil], juz I, halaman 203. Demikian inilah maksud frasa ayat وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبُوا۟ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا ٱكْتَسَبْنَ Artinya "Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan." Mudahnya, janganlah kalian laki-laki dan perempuan saling iri satu sama lainnya, laki-laki sudah punya potensi pahala dari amal-amalnya, demikian pula perempuan. Kemudian Allah berfirman dalam penghujung ayat وَاسْـَٔلُوا۟ ٱللَّهَ مِن فَضْلِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا Artinya, "Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Merujuk penafsiran Imam Fakhruddin Ar-Razi, frasa "was`alullāha min fadhlih", dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya, merupakan peringatan bagi manusia agar ketika berdoa tidak meminta sesuatu secara khusus, akan tetapi cukup meminta anugerah Allah secara mutlak yang dapat menjadi sebab kebaikan bagi dirinya, baik untuk urusan duniawi maupun urusan ukhrawi. Sedangkan frasa "innallāha kāna bi kulli syai`in 'alīmā", sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, maknanya adalah Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang baik bagi orang-orang yang berdoa. Karena itu hendaknya orang berdoa secara umum saja dan jangan sampai berdoa meminta sesuatu secara khusus atau tertentu. Karena terkadang sesuatu yang diminta secara khusus itu sebenarnya menjadi mafsadah dan bahaya baginya. Wallahu a'lam. Ar-Razi, X/84. Ustadz Ahmad Muntaha AM, Redaktur Keislaman NU Online dan Founder Aswaja Muda. Oleh Raidah Athirah Penulis, Kontributor Islampos, Tinggal di Polandia ENTAH siapa yang mula-mula menulis kalimat ini; Bahagia secukupnya, sedih sekadarnya.” Karena pada hakikatnya kehidupan ini dipergilirkan. Kamu hari ini merasa bahagia, yang lain tenggelam dalam duka. Jika rasa iri itu masih ada dalam dada, perlu kamu pertanyakan keyakinanmu tentang rezeki yang sudah diatur oleh yang Maha Pengatur. Perlu sekali, diam-diam kamu merenungi ayat-ayat Allah. Mendinginkan kalbu yang terbakar atas rasa iri melihat kebagiaan dan kesuksesan orang lain. Pahami kembali bahwa Allah Maha Adil. Dia memberimu nikmat dan ujian seperti halnya juga kepada orang lain. Bukankah kesedihan, kebahagiaan sudah diatur dengan adil olehNya? “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [ An-Nisa 32] **** Sering bahkan mungkin terbesit banyak hal yang membandingkan nasibmu dengan orang lain. “Beruntung bangat dia hidupnya, punya pekerjaan mapan dan keluarga yang oke punya.” “Aku lebih cantik tapi kok dia yang punya suami ganteng!” “Enak bangat hidupnya, Jalan-jalan terus nggak kayak aku nempel terus di kota ini.” “Hidupnya sukses, udah gituh terkenal lagi.” “Keren abis ! Cakep iya. Otaknya encer bangat. Beasiswa ke luar negeri terus. Aku kapan bisa kayak dia?” “Tuhan kok nggak ada adil-adilnya sama aku. Sengsara mulu nih hidup.” “Kapan jodoh ini akan datang? Sengsara sekali jadi jomblo! Iri bangat aku liat dia udah honeymoon. Lah, aku ini kapan dilamar? Aku wajahnya nggak jelek-jelek amat, kok.” Kamu lupa bahwa setiap orang punya rezekinya masing-masing. Gilirannya sudah diatur. Allah, Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim bahkan sudah mengaturnya sebelum kamu lahir ke dunia. Benarkah demikian? “Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.” Al-Hajj 58. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda; “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” HR. Muslim no. 2653, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Kamu dikuasai iri sampai lupa bertanya tentang jalan bagaimana dia bisa sampai di titik itu. Titik yang membuat kamu iri padanya. Saya pernah berada di titik yang kamu rasakan. Saya iri pada seorang teman lama ketika mendengar kabar dia bisa menjadi kepala kantor di usia sama seperti saya saat ini. Padahal dalam pandangan saya waktu itu, dia orang yang biasa-biasa saja. Sampai di suatu masa, Allah mengingatkan saya tentang jalan yang tak biasa yang sudah ia lalui. Ada ikhtiar yang luar biasa dan doa yang terus-menerus sampai ia bisa seperti ini. Teman saya ini orangnya supel dan punya banyak kawan. Ada satu hal yang saya ingat dari sifatnya yang suka membant; ia pernah membayar uang SPP saya yang tertunda beberapa bulan. Padahal kami memang sama-sama berstatus pengungsi waktu itu. Dan ada hal yang ia perjuangkan yang saya sendiri belum tentu mampu sepertinya. Teman saya ini yatim. Sepulang sekolah ia berjualan sayur. Tidak ada rasa malu ketika saya menjumpainya mendorong gerobak. Dalam keadaan ini pun ia masih giat berbagi. Apakah kamu siap menjalani proses berdarah-darah dan lelah sangat untuk bisa seperti orang yang hati kamu begitu iri padanya? *** Kamu iri karena kamu tak tahu bagaimana perjuangannya, hari-harinya dan sikapnya menghargai setiap masalah yang datang. Saya selalu menulis bahwa jangan iri karena kamu tak pernah tahu perjalanannya yang luar biasa sampai ia di titik yang begitu kamu impikan. Bila kamu melihat orang tertawa dan tersenyum lepas bukan berarti ia hidup tanpa masalah melainkan orang-orang ini adalah orang-orang yang telah belajar banyak hal dari kehidupan. Mari belajar dari pohon empat musim. Bahwasanya hidup ini memiliki sifatnya yang dipergilirkan. Bila memang masanya menguning, sekuat apapun manusia memaksa untuk mempertahankan warna hijau dedaunan tak akan mampu mengubah ketetapanNya. Begitupun sebaliknya. Bila demikian, sungguh rugi hati kamu yang hanya disibukkan dengan menaruh iri kepada nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Kamu bisa menirunya tapi tidak bisa menggantikan perjalanannya karena setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Jadi,bila rezeki tak bisa tertukar, mengapa hatimu iri pada kehidupan orang lain? [] Polandia, October 2017 Iri hati sangat sering membelenggu hati setiap orang. Iri hati membuat seseorang menjadi sering terpuruk dan tak tahu harus berbuat apa. Oleh karena itu, iri hati tak patut ditiru. Iri hati hanya membawa kita dalam kehancuran. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah melawan iri hati tersebut. Kita harus membuangnya jauh-jauh dan segeralah beralih pada sebuah kebaikan. Kita harus mengetahui juga dampak buruk dari iri hati tersebut. Berikut 3 dampak buruknya. 1. Kamu makin dibenci orang lain Dampak buruk pertama adalah kamu makin dibenci orang lain. Kita harus ketahui bahwa ketika iri hati merajai diri kita, maka kita akan dibenci. Sebab itulah, buang saja segala iri hati jika ingin disayang atau tidak dibenci. Sudah selayaknya kita beroleh pada sesuatu yang lebih baik kedepannya. Percayalah bahwa segalanya yang kita raih dengan tulus tanpa iri pada orang lain maka hasilnya akan baik. Jangan pernah iri pada orang lain agar kita tidak dibenci. 2. Rezekimu terhambat Dampak buruk kedua adalah rezekimu terhambat. Harus kita ketahui bahwa rezekimu akan terhambat bila terus menerus iri hati kepada orang lain. Harus disadari bahwa iri hati tidak akan mendapatkan berkat dari Sang Kuasa. Oleh karena itu, janganlah iri hati pada siapapun agar rezekimu tidak terhambat. Jadilah sosok yang membanggakan dan bisa jadi berkat buat banyak orang. Ketika kamu tidak punya rezeki, maka dirimu akan sangat menderita. Oleh karena itu, ayo jangan iri hati pada orang lain. 3. Kamu akan jadi bahan olok-olokan orang lain Dampak buruk terakhir adalah kamu akan jadi bahan olok-olokan orang lain. Percayalah bahwa iri hati akan membawamu pada sebuah kehancuran. Kamu akan diolok-olok sehingga mentalmu pun jadi terpuruk. Oleh karena itu, untuk menghindari olok-olokan tersebut, maka kamu jangan pernah iri hati. Kamu harus bisa menjadi orang yang baik dan tulus. Semua itu akan bermanfaat untuk kamu ke depannya. Jangan sampai dirimu dikuasai oleh iri hati. Dengan adanya 3 dampak buruk dari iri hati tersebut, semoga bisa membantu kamu menjadi manusia yang lebih baik dan tidak iri hati. Mushaf Standar Indonesia وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ﴿طه ۱۳۲﴾ Terjemahan IndonesiaDan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik di akhirat adalah bagi orang yang bertakwa. QS. Taha 132 Mushaf Madinah وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًۭا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ Huruf Arab Gundul وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى Transliterasiwa/mur ahlaka bialshshalaati waisthabir alayhaa laa nas-aluka rizqan nahnu narzuquka waal’aaqibatu lilttaqwaa Sudah sejauh mana interaksi Anda dengan ayat ini? boleh pilih lebih dari satuMempelajari Mendakwahkan Membaca Menghafal Mengamalkan

janganlah iri dengan rezeki orang lain